Langsung ke konten utama

Artikel

 Peran Media Massa dalam Pemberantasan Pungutan Liar

Oleh: Laras Sekar Seruni

 

Pungutan liar (pungli) memang berkelindan dengan korupsi. Mereka serupa tapi tak sama, ada tapi tak kasat mata, merajalela tapi tetap dimaklumkan, seolah hal tersebut sudah biasa terjadi.

Selama masyarakat tidak keberatan ‘menghibahkan’ sebagian kecil hartanya bagi para pemungut, masyarakat akan tetap diam. Tentu saja pemakluman yang terus menerus ini berimbas pada kepercayaan dan kualitas terhadap institusi terkait.

Beda cerita ketika pungutan itu terjadi di sebuah institusi yang lebih besar dari segi fungsi dan kedudukannya terhadap negara. Secara otomatis hal ini akan menyedot perhatian yang lebih besar pula. Terlebih jika institusi tersebut ‘tertangkap basah’ oleh presiden, seperti yang beberapa waktu lalu terjadi di Kementerian Perhubungan. Jumlahnya pun fantastis, hingga mencapai milyaran rupiah.

Belum lagi deretan kasus-kasus pungli lainnya baik yang masih tersembunyi ataupun yang sudah terungkap. Pungli dapat dikatakan menjadi sesuatu yang lumrah demi mendapatkan pelayanan terbaik.  Tidak dapat dipungkiri, pungli disini juga melibatkan struktur kedudukan maupun institusi, dari tingkat rendah sampai ke tingkat tinggi.

Miris ketika fakta menunjukan bahwa pungli bahkan telah menggerogoti badan sekelas kementerian. Artinya suprastruktur dan infrastruktur di Indonesia belum berjalan dengan baik, yang kemudian bersinggungan dengan stabilitas negara yang belum memadai. Sensor media massa dan masyarakat pun seperti baru diaktifkan, karena mendadak menyorot dan memberitakan kasus pungli dalam kuantitas dan ruang yang lebih besar. Pungli menjadi isu yang bertransformasi menjadi opini publik dan menjadi trending topic untuk beberapa waktu.


Permasalahan dan penyelesaiannya baru akan dipikirkan bersama-sama setelah dampak pungli dirasa akan mendegradasi bangsa dari berbagai macam aspek seperti mental, pendidikan, dan ekonomi. Ketika isu tersebut redup, bukan tidak mungkin pengawasan terhadap pungli menjadi menipis, bahkan hilang sama sekali.


Bill Kovach dan Tom Rosenstiel pernah mengemukakan sembilan elemen jurnalisme. Satu diantaranya adalah jurnalisme sebagai pelayan masyarakat dan pemantau terhadap kekuasaan, atau lebih sering dikenal dengan istilah watchdog. Di sini jurnalisme yang diaplikasikan dalam media massa diharapkan dapat mengimplementasikan secara nyata perihal pengawasan dan pengawalan terhadap pemberantasan pungli. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulangan Formatif Bab 1

 SOAL UJIAN FORMATIF 1 BAB I : Teks Laporan Hasil Percobaan Soal 1 Tujuan utama dari teks laporan hasil percobaan adalah untuk... A. Menghibur pembaca B. Menjelaskan suatu kejadian fiksi C. Menyampaikan hasil dari suatu percobaan D. Menyampaikan pendapat pribadi jawaban:C.Menyampaikan hasil dari suatu percobaan 

Artikel pendidikan

 Pengertian Artikel Pendidikan Artikel pendidikan adalah tulisan yang berisi gagasan, informasi, atau pembahasan mengenai dunia pendidikan. Tujuan utamanya untuk memberikan pengetahuan, wawasan, serta pemahaman kepada pembaca tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar, sistem pendidikan, masalah-masalah pendidikan, maupun solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Artikel pendidikan biasanya bersifat ilmiah populer, artinya ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami tetapi tetap berdasarkan data, teori, atau fakta yang benar. Contoh Artikel Pendidikan  Judul: Pentingnya Literasi di Kalangan Pelajar Literasi merupakan kemampuan untuk membaca, menulis, dan memahami informasi. Di era digital saat ini, literasi bukan hanya sekadar bisa membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami berbagai informasi yang tersebar melalui internet dan media sosial. Pelajar yang memiliki kemampuan literasi yang baik akan lebih mudah memahami pelajaran di sekolah, mampu berpikir kritis, s...

sinopsis film kadet 1947

 Sinopsis Kadet 1947 Film Kadet 1947 mengangkat kisah perjuangan tujuh calon penerbang Angkatan Udara Republik Indonesia (kadet) yang masih dalam masa pelatihan di sekolah penerbangan Maguwo, Yogyakarta, pada tahun 1947.  Latar waktu adalah masa Agresi Militer Belanda I, ketika Belanda berusaha mengambil kembali kekuasaan dari Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan. Belanda melakukan serangan udara terhadap berbagai sasaran publik dan markas pertahanan Republik Indonesia. Para kadet, meski mereka belum resmi menjadi penerbang, mempunyai semangat besar untuk ikut berperang dan mempertahankan kemerdekaan. Di tengah tantangan — pesawat tua, peralatan yang terbatas, cuaca buruk, dan tekanan dari pihak atasan yang belum siap memberi izin — mereka berlatih dan berusaha memperbaiki pesawat peninggalan Jepang. Puncak cerita terjadi saat mereka melaksanakan misi udara pertama Angkatan Udara Indonesia pada 29 Juli 1947, yaitu melakukan operasi pengeboman terhadap markas Belanda di Sem...